Langsung ke konten utama
                                 BAB I
                       PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengertian lainnya dari hasil hutan bukan kayu yaitu segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan kegiatan tradisionil dari masyarakat yang berada di sekitar hutan, bahkan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari.
Hasil hutan bukan kayu telah lama diketahui menjadi komponen penting dari kehidupan masyarakat sekitar hutan. Bagi sebagian besar penduduk, hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu sumber daya penting dibandingkan kayu. Banyak rumah tangga di sekitar kawasan hutan ini, menggantungkan hidupnya terutama pada hasil hutan bukan kayu sebagai kebutuhan sampingan (subsistem) dan atau sebagai sumber pendapatan utama.
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) me-rupakan jenis tanaman yang tumbuh, ba-ik di dalam maupun di luar kawasan hu-tan. Peranan HHBK sudah dirasakan ma-syarakat sebagai salah satu sumber pen-dapatan, namun sistem pengelolaannya masih bersifat tradisional sehingga kuali-tas yang dihasilkan masih jauh dari stan-dar yang diharapkan dan harganya masih rendah. Pengembangan HHBK sudah di-lakukan oleh masyarakat secara tradisio-nal dengan memadukan beberapa jenis tanaman dalam satu unit bentangan lahan yang disebut dengan sistem mamar yang sudah lama berkembang di daratan Timor Barat. Sekalipun demikian, sistem mamar belum memberikan produksi yang maksi-mal sebagai akibat dari tata ruang tanam-an yang tidak teratur dan memiliki kera-patan yang tinggi, sehingga kompetisi un-sur hara menjadi tinggi dan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Selama ini potensi ekonomi mamar lebih banyak berupa hasil hutan bukan kayu seperti bu-ah-buahan, madu, obat-obatan, pangan, ikan, dan ternak. Potensi pengembangan hutan untuk menghasilkan kayu masih sulit dilakukan, karena kondisi biofisik dan hidrologi un-tuk mendukung penanaman dalam skala luas tidak memungkinkan. Upaya pena-naman yang telah dilakukan selama ini banyak mengalami kegagalan, karena du-kungan faktor pedoagroklimat yang sa-ngat terbatas.
Hasil hutan bukan kayu yang di-peroleh masyarakat di Timor Barat seba-nyak 19 jenis yang berasal dari sembilan jenis tanaman dan satu jenis hewan (le-bah madu). Salah satunya yaitu asam dari kabupaten Timor Tengah Selatan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana potensi HHBK asam jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)?
2. Apa Saja Pemanfaatan HHBK dari Asam Jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan?
3. Apa saja tantangan dalam pengembangan HHBK Asam jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui potensi HHBK asam jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
2. Untuk mengetahui pemanfaatan HHBK dari Asam Jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
3. Untuk mengetahui tantangan dalam pengembangan HHBK asam jawa di kabupaten Timor Tengah Selatan.

















                                  BAB II
                          PEMBAHASAN

2.1 Potensi HHBK Asam Jawa di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) me-rupakan jenis tanaman yang tumbuh, ba-ik di dalam maupun di luar kawasan hu-tan. Peranan HHBK sudah dirasakan ma-syarakat sebagai salah satu sumber pen-dapatan, namun sistem pengelolaannya masih bersifat tradisional sehingga kuali-tas yang dihasilkan masih jauh dari stan-dar yang diharapkan dan harganya masih rendah.
Berbagai  potensi dimiliki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Salah satunya adalah asam jawa. Indonesia sebagai negara yang berlimpah agro raw material dengan berbagai ragam kekayaan nabatinya, seharusnya tidak usah mengimpor tepung biji asam dari India, karena Indonesia memiliki pertanaman asam yang luas di Propinsi NTT yang tersebar di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Manggarai dan Manggarai Timur, yang sangat potensial sebagai penghasil tepung biji asam. Tinggal sekarang bagaimana political will dari pemerintah untuk memberdayakan, sehingga jika potensi asam di Propinsi NTT dimanfaatkan secara baik, maka industri tekstil di Indonesia tidak harus bergantung pada pasokan tepung biji asam dari India. Dengan mengembangkan industri tepung biji asam sendiri, harganya dapat lebih murah karena produksi dalam negeri, juga lebih efektif dari aspek waktu karena proses pengiriman barang hanya dalam skala antar pulau, begitupun dapat menghemat devisa negara yang berdampak positif pada perkembangan perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Propinsi NTT, di propinsi tersebut  terdapat potensi sebanyak 3.000 ton biji asam pertahun atau setara dengan 2.700 ton tepung biji asam pertahun.  Dari jumlah potensi tersebut sebanyak 80% diperoleh dari pertanaman asam jawa dari Kabupaten TTS yang mempunyai pertanaman terluas di Propinsi NTT.  Hampir sebagian besar hutan di Kabupaten TTS didominasi oleh pohon asam,  dimana pohon asam tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya unsur kesengajaan untuk menanamnya. Beruntung, pohon asam tidak rewel seperti tanaman yang lain, di hutan-hutan pohon asam tumbuh secara alamiah, kokoh berdiri tidak perlu dirawat. Menjelang musim panen, yakni pada bulan Agustus, September dan Oktober masyarakat ramai-ramai masuk keluar hutan memburu asam, pohon asam di hutan tidak punya pemilik,  siapa saja bebas memetik dan atau memungut buahnya yang jatuh ke tanah.  Selama ini masyarakat TTS mengolah buah asam menjadi asam kawak, dengan produksi asam kawak mencapai 2.000 – 3.000 ton pertahun.
Menurut Koenunu hampir seluruh daratan di TTS ditumbuhi pohon asam. Namun pohon asam itu tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya unsur kesengajaan pemilik tanah menanamnya. Koenunu menyebutkan daerah penghasil asam terbesar berada di Kecamatan Kualin, Kolbano, Boking, Toianas, Amanuban Selatan, Mollo Utara, Mollo Tengah dan Mollo Barat. Oleh sebab itu,  asam yang berasal dari dataran timor dapat dijadikan sebagai aset yang paling berharga untuk menambah pendapatan warga.

1. Profil Asam Jawa (Tamarindus indica L.) 
Asam jawa yang bernama ilmiah Tamarindus indica L. adalah sebuah tanaman daerah tropis dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Batang pohon asam yang cukup keras dapat tumbuh menjadi besar dan daunnya rindang. Pohon asam bertangkai panjang, sekitar 17 cm dan bersirip genap, dan bunganya berwarna kuning kemerah-merahan dan buah polongnya berwarna coklat dan tentu saja berasa khas asam. Biasanya di dalam buah polong buah juga terdapat biji berkisar 2-5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman (Wikipedia, 2011a).


Gambar. Buah Asam Jawa



Tanaman asam jawa (Tamarindus indica L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah savana yang gersang di Afrika, termasuk famili Leguminosae. Hampir semua bagian tanaman asam dapat digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Daging buah asam jawa sangat populer dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia. Buah yang muda biasa digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak. Buah yang telah masak dapat disimpan lama setelah dikupas dan sedikit dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, yang biasa disebut asam kawak. Selain sebagai bumbu, asam kawak dapat dipergunakan untuk memberikan rasa asam atau untuk menghilangkan bau amis ikan, selain itu biasa digunakan sebagai bahan sirup, selai, gula-gula, dan obat tradisional jamu.
Di samping daging buah, banyak bagian pohon asam yang dapat dijadikan bahan obat tradisional. Daun mudanya digunakan sebagai tapal untuk mengurangi radang dan rasa sakit di persendian, di atas luka atau pada sakit rematik. Daun muda yang direbus untuk mengobati batuk dan demam. Kulit kayunya yang ditumbuk digunakan untuk menyembuhkan luka, borok, bisul dan ruam, adapun tepung bijinya dapat dipergunakan untuk mengobati disentri dan diare.
Asam jawa  termasuk tumbuhan berbuah polong, dengan buah polongnya berwarna coklat dengan rasa khas asam, di dalam buah polong selain terdapat kulit yang membungkus daging buah, juga terdapat biji berjumlah 2 - 5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman. Tanaman asam dapat memperindah dan peneduh pekarangan rumah, jalan-jalan di dalam kota dan jalan raya, serta dapat pula dijadikan sebagai tanaman penghijauan dan tanaman penahan angin, dapat memperbaiki lingkungan yang gersang dan tandus karena termasuk kerabat legiminosae dan mempunyai sifat tahan terhadap kekeringan.   
Saat ini tepung biji asam sangat berperan dalam industri tekstil Indonesia, yaitu sebagai pengental cetak tekstil. Untuk itu Indonesia masih mengimpor tepung biji asam dari India lantaran ketiadaan tepung ini di tanah air. Dengan tepung biji asam sebagai pengental, mendapatkan hasil kekakuan kain dan kekuatan warna yang lebih baik daripada pengental komersial yang beredar dipasaran, adapun kelebihan lainnya dari tepung ini adalah tidak bereaksi dengan serat kain maupun zat warna.
Daging buah asam jawa mengandung 8-14% asam tartarat, 30-40% gula, serta sejumlah kecil asam sitrat dan kalium bitaetrat sehingga berasa sangat masam. Warna asli daging asam adalah kuning kecoklat-coklatan. Akibat pengaruh pengolahan, warnanya berubah menjadi kehitam-hitaman. Pulp buah asam yang masak mengandung air sekitar 63,3-68,6%, bahan padat total 31,3 36,6%, protein 1,6-3,1%, lemak 0,27-0,69%, sukrosa 0,1-0,8%, selulosa 2,0-3,4%, dan abu 1,2-1,6%. Abu dari tanaman asam tersusun atas kalium, silikon, natrium, fosfor, dan kalsium. Asam tartarat merupakan komponen asam yang paling utama dalam pulp. Kandungan asam dalam pulp asam berkisar antara 8-16%, sedangkan asam lainnya total hanya sekitar 3% dari berat pulp (Rukmana, 2005).
Buah asam jawa yang masak di pohon diantaranya mengandung nilai kalori sebesar 239 kal/100 gram, protein 2,8 gram/100 gram, lemak 0,6 gram/100 gram, hidrat arang 62,5 gram/100 gram, kalsium 74 miligram/100 gram, fosfor 113 miligram/100 gram, zat besi 0,6 miligram/100 gram, vitamin A 30 miligram/100 gram, vitamin B10,34 miligram/100 gram, vitamin C 2 miligram/100 gram (Wikipedia, 2011a).
Melihat beberapa peluang seperti bahan baku biji asam yang mudah didapat, banyaknya manfaat asam jawa  dan peluang usaha yang menggiurkan, maka saya memiliki keinginan untuk mengoptimalkan fungsi limbah sehingga mampu memberikan nilai tambah bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat sekitar.

2. Proses Budidaya Asam Jawa (Tamarindus indica L.)
Syarat tumbuh
Asam tumbuh baik pada variasi kondisi tanah dan iklim yang luas. Tanaman ini tumbuh di tanah berpasir atau tanah liat, mulai dataran rendah sampai dataran menengah (sampai 1000 m dpl., kadang-kadang 1500 m dpl.). Sistem perakarannya yang sangat ekstensif berperan positif terhadap tahannya akan kekeringan dan angin kencang. Di daerah tropik basah (curah hujan > 4000 mm) pohon asam tidak mampu berbunga, dan diperlukan kondisi basah pada tahap akhir perkembangan buahnya.

Pedoman Budidaya
Asam dapat diperbanyak dengan benih, pencangkokan, penyambungan, dan penempelan. Anakannya yang berumur satu tahun atau kurang sudah cukup besar untuk .ditanam di lapangan, tetapi mungkin sifatnya berbeda dengan induknya. Pohon induk yang baik biasanya diperbanyak secara vegetatif. Penempelan perisai (shield budding) dan penempelan tambalan (patch budding) serta sambung-celah (cleft grafting) merupakan metode yang cepat dan dapat dipercaya. Pohon hasil perbanyakan secara penempelan atau penyambungan ditanam di kebun pada awal musim hujan dengan jarak tanam 8-10 m.

Pemeliharaan
Perawatan pohon asam pada umumnya minim dan dilakukan pemeliharaan secara intensif. Perlakuan ini dimungkinkan karena pohon hasil penyambungan sudah dapat berbuah pada umur 3-4 tahun.. Langkah-langkah pengaturan ukuran pohon mencakup jarak tanam yang rapat (kira-kira 500 batang per hektar) dan pemangkasan untuk memperbaharui cabang penghasil buah.

Organisme Penggangu
Pohon asam merupakan inang berbagai hama, seperti penggerek (shot-hole borers), serangga (toy beetles), ulat pemakan daun, cacing (bagworms), kutu bubuk, dan kutu perisai. Pada beberapa musim, hama penggerek buah mengakibatkan kerusakan serius pada buah yang sedang dalam proses pematangan, menyebabkan berkurangnya hasil yang dapat dipasarkan.

Pemanfaatan HHBK Asam Jawa Di Kabupaten Timor Tengah Selatan  (Tamarindus indica L.)

           Menjelang musim panen, yakni Agustus, September dan Oktober warga ramai-ramai masuk keluar hutan memburu asam. Adapun warga akan naik ke pohon lalu menjatuhkan buahnya, kemudian memungut buah yang sudah jatuh ke tanah. Buah itu lalu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dijual kepada pengepul.
            Siklus mencari, mengumpul dan menjual asam ke pengepul sudah jadi tradisi. Sudah lazim dan berjalan setiap tahun. Meski sudah lazim dan dilakonkan ramai-ramai oleh warga di desa dan kampung, hal itu belum berhasil memberi inspirasi kepada pemerintah dan wakil rakyat untuk mengembangkan asam menjadi komoditas primadona.. Di hutan-hutan pohon asam tumbuh alamiah. Kokoh berdiri. Tidak perlu dirawat.

Tepung biji Asam jawa
Saat ini tepung biji asam sangat berperan dalam industri tekstil Indonesia, yaitu sebagai pengental cetak tekstil. Untuk itu Indonesia masih mengimpor tepung biji asam dari India lantaran ketiadaan tepung ini di tanah air. Dengan tepung biji asam sebagai pengental, mendapatkan hasil kekakuan kain dan kekuatan warna yang lebih baik daripada pengental komersial yang beredar dipasaran, adapun kelebihan lainnya dari tepung ini adalah tidak bereaksi dengan serat kain maupun zat warna.
"Tepung yang terbuat dari biji asam saat ini sangat dicari perusahaan tekstil untuk pewarna kain. Untuk Indonesia, tepung biji asam masih didatangkan dari India lantaran ketiadaan tepung biji asam di tanah air. Makanya, bila TTS dapat menyuplai setidaknya sepuluh ton tepung biji asam, maka kabupaten ini akan kebanjiran investor perusahaan tekstil. Dan tentunya industri ini akan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat TTS.
Untuk merancang ke arah industri rumah tangga, terlebih dahulu perlu mengoptimalkan bantuan mesin pengolah biji asam menjadi tepung tahun ini. Bila berhasil, tahun berikutnya Disperindag akan melakukan pengadaan biji asam dan sekaligus mesin pengelolaanya.
Potensi  biji asam jawa di NTT, tidak hanya sekedar dimanfaatkan untuk makanan ternak, tetapi diolah menjadi komoditas  yang mempunyai nilai tambah tinggi,  yaitu dengan membangun industri pengolahan tepung biji  di propinsi tersebut. Teknologi proses pengolahan biji asam menjadi tepung sangat sederhana, yaitu dimulai dengan seleksi biji asam, penyanggraian, pengelupasan kulit, pemasakan biji, pengeringan sampai proses penggilingan/penghalusan dengan  ukuran 100 mesh. Karenanya, industri ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga maupun UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), dan sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan teknologi maupun alih teknologinya, berikut bantuan permodalan melalui kredit perbankan berbunga lunak. Dan mengingat bahwa industri skala rumah tangga maupun UMKM merupakan  industri padat karya, maka industri pengolahan tepung biji asam akan menyerap banyak tenaga kerja yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Untuk jangka panjang, dalam menjamin ketersediaan bahan baku dan kesinambungan industri ini, harus sudah direncanakan pengembangan budidaya tanaman ini kedepan yang dilakukan secara komersial dan professional.

Gambar 1. Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.)


Gambar. Tepung Biji Asam
2.   Manisan Asam
Buah asam dapat pula dimanfaatkan sebagai manisan asam manis. Cara pengolahannya yaitu :
Pengupasan
Pengupasan bertujuan untuk memisahkan antara kulit, biji, dan daging buah. Menghilangkan bagian yang tidak dapat dimakan, kotoran-kotoran dan bagian-bagian yang menyebabkan mutu turun dan menghasilkan kualitas yang baik (Pujimulyani, 2009).


Gambar 2. Proses pengupasan asam

Sortasi
Sortasi yaitu pemilihan bahan untuk memilih bahan segar, utuh, tidak cacat dan ukuran, warna serta bentuk yang seragam. Tidak cacat yang dimaksud adalah buah tidak berjamur atau diserang mikroba dan tidak terjadi kerusakan mekanis selama pemetikan dan pengolahan bahan (Pujimulyani, 2009). Sortasi dan penggolongan mutu sangat diperlukan untuk menggolongkan buah sesuai dengan ukuran dan ada tidaknya cacat. Penggolongan mutu atau grading adalah klasifikasi komoditi dan kelompok menurut standart komersil yang dapat diterima (Satuhu, 1996).
\

Gambar. Hasil Sortasi asam

Pengolahan
Di tahap ini daging buah yang dipilih akan dicampur dengan gula, garam dan lombok. Setelah itu dibungkus dalam kemasan dan dipasarkan.


Gambar. Manisan asam


 2. Pemanfaatan obat
Sukar Tidur
Ambil daun asam secukupnya, keringkan lalu dipakai pengisi bantal kepala. Tidulah dengan bantal ajaib ini, memang aneh, tapi buktikan saja maka anda bisa terlelap.
Mencegah Rambut Rontok
Buah asam yang sudah tua dicampur sedikit air, dipakai untuk mengurut kulit kepala lalu rambut dicuci bersih dengan shampo.
Gatal-Gatal atau Biduran
Asam kawak sebesar telur ayam, umbi temulawak, gula aren dan 2 gelas air, direbus sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum.
Rematik/Bengkak karena terpukul
Ambil daun muda asam secukupnya dan rimpang kunyit ditumbuk halus lalu diseduh dengan sedikit ari panas lalu dipakai menurap bagian yang sakit. Atau bisa memakai buah asam tanpa biji dilumatkan seperti bubur, panaskan sebentar lalu dipakai menurap bagian yang sendi yang sakit.
Penggunaan lain :
Daun muda yang digiling bersama kunyit, dapat dipergunakan sebagai obat kompres penyakit rematik, bisul dan eksim. Selain khasiat yang disebutkan diatas,manfaat asam jawa untuk kesehatan tubuh lainnya yaitu bisa berfungsi sebagai obat pencahar.Menurut Ir.Wahyu Soeprapto,salah seorang  ahli tanaman obat dari malang.Asam jawa mengandung salah satu senyawa yaitu asam tatrat,jenis asam ini bisa berperan sebagai pencahar bagi mereka yang mengalami sulit buang air.Selain itu karena sifatnya menjadi gel dengan menyerap cairan,asam jawa juga bisa dipakai untuk menghancurkan lemak, sehingga baik juga digunakan sebagai salah satu program diet anda.Daun asam jawa mengandung flavonoid, bersifat anti radang dan menghilangkan rasa sakit.

Bumbu Dapur
Asam juga biasanya dijadikan sebagai bumbu dapur. Misalnya sebagai bahan dalam memasak sayur asam, kuah asam ikan dll.

C. Kendala Dalam Pengembangan HHBK Asam di Kab. TTS
       Sudah sejak dulu Kabupaten Cendana Wangi ini memiliki asam. Asam sesungguhnya sangat prospektif. Sayang, sejauh ini pemerintah masih menganaktirikan asam. Rakyat dibiarkan sendiri memburu asam di hutan. Memburu, karena pohon asam di hutan tidak punya pemilik. Siapa saja bebas memetik dan atau memungut buahnya yang jatuh ke tanah.
         Tetapi melihat potensi dan prospeknya yang lumayan, mestinya pemerintah bisa memikirkan untuk melipatgandakan fungsi asam sehingga lebib berdaya guna. Harganya memang terbilang murah. Cuma Rp 600,00 hingga Rp 1.000,00/kg. Tetapi kalau pemerintah bisa menjadikan asam sebagai komoditas massal dan diusahakan secara massal, tak sulit menghitung keuntungan yang diraup warga. Apalagi, asam bukan cuma daging buahnya yang bermanfaat. Biji asam juga dicari untuk diolah menjadi zat pewarna untuk industri tekstil.
           Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan TTS, Drs. Daniel Dede, yang saat diwawancarai masih menjabat, mengatakan, setiap tahun TTS dapat memproduksi asam sebanyak 2.000 hingga 3.000 ton. Bila warga menjual asam ke pengusaha di Kota SoE, maka akan mendapatkan harga setiap kilogramnya Rp 1.000,00 hingga Rp 2.000,00. Sementara bila biji asam diolah menjadi tepung bisa dihargai dengan Rp 7.000,00/kg.
           Kendati demikian, untuk mengubah biji asam menjadi tepung dibutuhkan teknologi mesin pengolahnya. Selain itu, sebelum dipasarkan ke perusahaan tekstil tepung itu harus memenuhi standar mutu internasional, juga mutu tepung biji asam dari TTS memiliki kualitas paling baik. Konon, biji dan daging buah asam dari Timor memiliki kualitas yang unggul dibandingkan dengan asam lainnya di Indonesia. Di pasaran, pengusaha besar di Jawa lebih memilih asam daratan Timor untuk diolah menjadi makanan ringan, tepung dll.
          Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan TTS, Drs. Urias Sanam, yang dikonfirmasi melalui Kasi Rehabilitasi dan Pengkayaan Hutan, Chris Koenunu, S.Hut mengatakan pohon asam bisa berbuah dalam usia lima tahun. Selain mudah membudidayakannya, menanam pohon asam tidak memerlukan perawatan ekstra layaknya tanaman lainnya. Ibarat tinggal menabur bijinya saja, maka tanaman itu bisa tumbuh hingga besar.
           Dalam catatan Dishutbun TTS, produksi asam tujuh tahun terakhir mengalami pasang surut. Tahun 2001, produksi asam isi sebanyak 792 ton, tahun 2002, 487,5 ton, tahun 2003 sebanyak 4.635 ton, tahun 2004, 3.261 ton, tahun 2005, 3.174 ton, tahun 2006, 3.287 ton dan tahun 2007 sebanyak 5.535 ton.
           Bila saja pemerintah memprogramkan penanaman asam secara massal, maka di saat musim kemarau warga tak lagi gigit jari menunggu berbagai bantuan pangan dari pihak luar lantaran kekurangan pangan. Terlebih lagi, bila pemerintah serius, maka dengan sentuhan teknologi perkebunan dan pertanian dapat memungkinkan satu pohon asam berbuah dua hingga tiga kali dalam setahun. Alhasil, warga pemilik pohon asam pun dapat berbesar hati. Rupiah pun dapat diraup warga saat musim panen tiba. Dan, untuk menghindari gejolak turunnya harga pada saat musim panen maka sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk membeli asam milik masyarakat.
         Kabupaten Timor Tengah Selatan pernah berjaya karena cendana. Kini secara ekonomis, cendana hampir punah. Kabupaten ini juga pernah harum namanya karena buah apel. Kini, apel SoE tenggelam dan nyaris tidak terdengar lagi. Kabupaten dingin ini juga punya nama besar karena jeruk keproknya. Tetapi TTS tidak hanya punya itu. Dia punya asam dengan kualitas sangat baik. Cepat atau lambat, asam akan melambungkan nama Timor Tengah Selatan.

Komentar